Pekanbaru, Kamis, 4 Desember 2025 — Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Riau, Ibu Dra. Mimi Yuliani Nazir, Apt., M.M., memimpin rapat koordinasi dalam rangka penguatan kesiapan daerah menghadapi pelaksanaan Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya terkait pemenuhan kebutuhan ayam lokal di Provinsi Riau.
Kegiatan dilaksanakan di Ruang Rapat Aula DPKH Provinsi Riau dan dihadiri jajaran pejabat teknis, yaitu Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kepala Bidang Agribisnis, Kepala Bidang Kesmavet, Kepala Bidang Produksi, pejabat fungsional madya, Ketua Tim Bidang Produksi, Ketua Tim Bidang Kesehatan Hewan, serta Kepala Seksi Laboratorium Veteriner UPT LVKH. Masing-masing kepala bidang menyampaikan poin pembahasan sesuai lingkup tugas dan agenda rapat.
Selain itu, kegiatan turut diikuti empat perusahaan perunggasan, yaitu *PT Charoen Pokphand Jaya Farm, PT Indojaya Agrinusa, PT Malindo Feedmill, dan PT Super Unggas Jaya.
Agenda Rapat
1. Evaluasi pelaksanaan surveilans Pullorum dan Avian Influenza (AI).
2. Pembahasan produksi dan ketersediaan unggas lokal serta kemampuan pelaku usaha memenuhi kebutuhan daging ayam di Riau.
Pemaparan Kebijakan dan Arah Program
Kepala Dinas menegaskan bahwa Provinsi Riau perlu memastikan kesiapan produksi ayam lokal, mengingat Program MBG akan meningkatkan permintaan daging ayam pada tahun 2026. Saat ini kapasitas produksi perusahaan masih setara dengan tahun sebelumnya dan belum mengalami peningkatan.
Disampaikan bahwa tahun lalu Riau mengalami kekurangan produksi daging ayam sekitar 8% untuk kebutuhan konsumsi reguler. Dengan operasional Program MBG, permintaan diperkirakan meningkat signifikan, terutama jika 667 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi penuh di Provinsi Riau.
Evaluasi Manajemen Kesehatan Hewan dari Bidang Terkait
Bidang Kesehatan Hewan menyampaikan evaluasi pelaksanaan surveilans Pullorum dan AI melalui pemeriksaan laboratorium serta monitoring berkala oleh UPT LVKH untuk memastikan DOC yang beredar aman dan bebas penyakit strategis. Evaluasi juga mencakup kepatuhan perusahaan terhadap kewajiban fasilitas pemotongan, rantai dingin, dan distribusi sesuai ketentuan.
Paparan Bidang Agribisnis
Kepala Bidang Agribisnis menyampaikan bahwa daging ayam merupakan bahan pokok penting, sehingga perubahan produksi dan distribusi dapat berdampak langsung terhadap inflasi daerah. Oleh karena itu, ketersediaan ayam lokal perlu dijaga agar stabil untuk kebutuhan reguler maupun peningkatan permintaan tahun 2026.
Paparan Bidang Kesmavet
Kepala Bidang Kesmavet menegaskan bahwa pelaku usaha perunggasan memiliki kewajiban menyediakan Rumah Potong Unggas (RPU) ber-NKV apabila telah mencapai kapasitas minimal 60.000 chick in per minggu. Fasilitas ini diperlukan untuk menjamin proses pemotongan unggas dilakukan secara higienis dan memenuhi standar keamanan pangan.
Penyampaian Ketua Tim Bidang Produksi
Dalam sesi diskusi, Ketua Tim Bidang Produksi mengingatkan kembali bahwa perusahaan breeding farm dan hatchery telah menerima surat dari Kepala Dinas mengenai permintaan penyampaian laporan produksi dan distribusi DOC.
Disampaikan bahwa perusahaan wajib melaporkan data produksi dan distribusi DOC setiap bulan kepada DPKH Provinsi Riau.
Data tersebut digunakan untuk:
- mengetahui dan memantau ketersediaan daging ayam di Provinsi Riau,
- menilai kestabilan harga serta kondisi pasokan unggas lokal,
- serta memastikan dukungan kapasitas produksi terhadap kebutuhan Program MBG pada tahun 2026.
Proyeksi Kebutuhan Ayam Lokal untuk Program MBG
Pejabat Fungsional Madya memaparkan proyeksi kebutuhan daging ayam tahun 2026 untuk mendukung Program MBG. Perhitungannya menunjukkan bahwa:
- setiap SPPG menyediakan 2 kali makan daging ayam per hari,
- dengan 3.000 porsi,
- sehingga kebutuhan mencapai ±2.800 ekor (2.800 kg) per bulan per SPPG.
Dengan total 667 SPPG, kebutuhan daging ayam akan meningkat signifikan. Oleh sebab itu, perusahaan breeding farm diharapkan dapat menyesuaikan kapasitas produksi DOC untuk mendukung kebutuhan unggas lokal di Provinsi Riau.
Hasil dan Rencana Tindak Lanjut
Rapat menyepakati langkah tindak lanjut berupa:
- sinkronisasi data kapasitas produksi DOC lokal,
- koordinasi teknis lanjutan antara DPKH dan pelaku usaha perunggasan,
- serta pembentukan forum koordinasi bersama kabupaten/kota dan UPT terkait.
DPKH Provinsi Riau menegaskan bahwa ketersediaan ayam lokal merupakan faktor fundamental dalam mendukung keberhasilan Program MBG dan menjaga stabilitas pasokan pangan hewani di daerah.




